Analytics

Sunday, April 19, 2009

Fine is Abnormal

Pasien : Saya.. baik-baik saja, dok

Dokter : Maksud Anda ?

Pasien : Iya, saya bisa berjalan normal, makan-minum normal, bernapas, semuanya. Tidak ada yang tidak normal. Saya merasa kalau saya baik-baik saja.

Dokter : Anda sudah pernah periksa sebelumnya?

Pasien : Iya, Saya sudah memeriksakannya di tiga tempat.

Dokter : Hasilnya ?

Pasien : Semuanya mengatakan bahwa tidak ada yang tidak normal. Mereka menyarankan saya untuk memeriksakannya kembali setelah beberapa bulan, dengan alasan ada kesalahan instrumen lah, dll. Tapi ini tiga-tiga nya, dok..?

Dokter : Pasti ada penjelasan untuk semua ini.

Pasien : Apa mungkin saya ini orang bumi ?

Dokter : Ayah Anda ?

Pasien : Sosjdalp

Dokter : Ibu Anda ?

Pasien : Piaufh

Dokter : Lalu bagaimana mungkin kalau Anda itu orang bumi? Lagian orang bumi..

Pasien : Telah punah sejak ratuuusaaaann tahun yang lalu. Iya, saya tahu.

Dokter : Sebaiknya Anda menenangkan diri dahulu. Anda bisa datang kembali ke sini minggu depan.

Pasien : Ya, mungkin sebaiknya begitu.

Saturday, April 4, 2009

Sang Pesulap (The Magician)

Dalam film pendek ini, diceritakan mengenai pencarian jati diri seorang pesulap muda yang sedang naik daun.

Film dimulai dengan memperlihatkan pesulap tersebut sedang mengadakan sebuah pertunjukan. Semua penonton menantikan kejutan baru yang akan ditampilkan oleh sang Pesulap.

Tanpa ada yang menyangka, sulapnya kali itu gagal. Penonton banyak yang merasa kecewa. Tapi sepertinya sang Pesulap yang paling terpukul. Tanpa sepatah kata, ia langsung turun dari panggung.

Promotor acara kemudian naik ke atas panggung dan meminta maaf kepada seluruh penonton. Ia berjanji akan mengembalikan uang penonton 100%.

Ketika para penonton telah pulang, sang Pesulap kembali naik ke atas panggung. Ternyata masih ada seorang penonton. Sang Pesulap mengundang penonton tersebut untuk naik ke atas panggung. Ia kemudian menunjukkan sebuah sulap. Sebuah sulap yang baru saja dilakukannya, dan gagal.

Saat itu ia melakukannya dengan berbeda. Ia melakukannya dengan senyum dan kegembiraan. Mungkin sesuatu hal yang telah ia lupa setelah pamornya naik. Suatu hal yang sebenarnya telah membuat dirinya menyukai sulap.

Kali itu sulapnya berhasil. Ia pun tertawa. Penonton itu pun tertawa.

Kamera menjauh. Fade Out. Lampu panggung dimatikan.

Sunday, March 29, 2009

Request Lagu


PENYIAR RADIO


Ya, mau lagu apa ?

Ok, trus ada request yang lain ?

Ada lagi ?

Mm.. mmm..

Yang lain?

Oh.. sip.. sip

Tapi maaf ya mbak kita cuma bakal puterin satu..

Yg pertama ?

Ok, terima kasih...

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Menyambung dari postingan sebelumnya, jadi dapat ide buat sebuah acara tv. Konsepnya dokumenter. Objeknya : orang - orang yang sudah dianggap berjasa besar oleh masyarakat sekitar, tetapi seperti tidak ada timbal balik yang setimpal untuk mereka. Misalnya, tentang seorang guru yang sudah mengajar bertahun - tahun di sebuah desa, tapi tetap berstatus guru honorer, dan cerita - cerita lainnya (bukan hanya tentang guru lho..).

Orang - orang seperti itu pasti ada banyak, sehingga episodenya bisa sampai 100 lebih. Mungkin diri kita sendiri pun pernah melakukan yang seperti itu : berbuat baik pada sesama dengan ikhlas (tanpa pamrih).

Acara ini bisa menjadi penyejuk hati di siang hari, atau menjadi bahan untuk kita bermimpi di malam hari.

Ada tanggapan? Atau sudah ada ya acara seperti ini ??

Sunday, March 22, 2009

Potret Peradaban Manusia














Film dapat menggambarkan "Potret Peradaban Manusia". Di saat buku-buku teks tidak dapat berbicara banyak, film dapat melenggang dengan elegan membawakan pesan - pesan penuh makna. Lewat film pula, kita dapat menyampaikan kegelisahan, kemarahan, kesedihan, kegembiraan, atau perasaan apapun yang ingin diungkapkan.

Tapi, apakah kita selalu jujur terhadap perasaan kita? Seberapa jauh kita berjuang untuk suatu hal yang sebenarnya kita ingin sekali? Atau kita hanya bisa marah dan menyalahkan orang lain ?

Lewat foto di atas, saya bukan ingin berbicara mengenai lingkungan hidup, atau buruknya penataan kota sehingga kurangnya daerah resapan air. Tapi saya ingin berbicara mengenai kejujuran.

Mungkin, di saat kita sedang menggerutu mengenai ramainya pembalakan liar, beberapa polisi hutan di sana sedang bersusah payah mengawasi ribuan hektar hutan. Sekali lagi saya bukan ingin berbicara mengenai hutan, tapi saya ingin berbicara mengenai ekspresi.

Mungkin di saat kita ngomel-ngomel tentang buruknya pendidikan, di pelosok sana seorang guru tetap bertahan demi mengajarkan sedikit ilmu bagi sekian banyak muridnya.

Sekali lagi, tidaklah penting apa objeknya. Yang penting adalah di mana kita menempatkan diri kita. Apakah di garis perjuangan ? Ataukah kita tetap asik dengan kesenangan kita masing-masing, dan tidak jujur dalam mengekspresikan perasaan ?

Sunday, March 8, 2009

Jasa Dokumentasi

Buka usaha kecil-kecilan nih..
Lihat iklannya di sini

Wednesday, March 4, 2009

Garasi 2

Seperti banyak kita lihat, band-band terkenal banyak yang berganti-ganti personil. Muncul pertanyaan, apa yang menjadi penyebabnya ? Sebagai orang yang memang bukan seorang pemain band, atau yang mengerti mengenai musik, Saya merasa sangat aneh dengan hal tersebut. Bukankah mereka berkumpul karena pertemanan? Berarti ada masalah dalam pertemanan mereka? Ataukah semua itu hanyalah karena materi semata?

Kalau ada di antara teman-teman yang belum menonton "Garasi", film itu menceritakan tentang beberapa anak muda yang berkumpul karena musik. Ternyata di sana juga muncul cinta. Lalu, juga sempat terjadi kerusakan hubungan persahabatan antara dua orang personilnya. Intinya, film itu menceritakan sebuah band yg baru lahir. Entah kenapa, saya merasa di film ini, nuansa "band"-nya dapet banget.

Saya pikir setahun kemudian, akan muncul sekuelnya. Tapi, ternyata tidak. Bayangan saya "Garasi 2" bercerita tentang lika-liku perjalanan band itu. Juga, kehidupan pribadi para personilnya. Termasuk juga, mengenai hal yang saya tuliskan di awal.

Sepertinya tidak perlu takut kalau film tersebut bakal diacuhkan oleh penonton, mengingat band-band di Indonesia ini sangat banyak, dan animo masyarakat juga cukup tinggi terhadap band-band tersebut. Selain itu, film mengenai musik juga cukup langka. Jadi, bisa menambah ragam film-film Indonesia. Terakhir, film ini bisa menjawab penantian orang-orang seperti saya :)

Semoga menjadi perhatian bagi pihak-pihak yang terlibat dalam produksi film "Garasi".